Dari Maritime Power Menuju Human Security, Kapusjianmar Seskoal Sampaikan Gagasan Strategis dalam Konferensi Internasional di RGGU, Rusia

Moskow, Rusia, 18 September 2026 — Kepala Pusat Pengkajian Maritim (Kapusjianmar) Sekolah Staf dan Komando Angkatan Laut (Seskoal) Laksma TNI Salim, S.E., M.Phil., M.Tr.Opsla., hadir mengikuti Virtual Meeting sebagai pembicara/narasumber pada Sesi Konferensi Strategis Internasional yang diselenggarakan secara hybrid (luring dan daring) oleh Russian State University for the Humanities (RGGU), Jumat (18/9/2026).

Kegiatan konferensi tersebut dilaksanakan di Ruang Sidang Dewan Akademik Universitas RGGU, Ulitsa Miuskaya No. 6, Gedung 6, Ruang 616, Moskow, Rusia, pada pukul 11.00 waktu setempat, serta dihadiri oleh para pakar, kolega, dan mitra dari Universitas RGGU.

Dalam forum strategis internasional tersebut, Kapusjianmar Seskoal menyampaikan pemikiran dengan judul “Maritime Power and the Evolution of World Order: Historical Lessons, Contemporary Challenges, and Future Perspective on Maritime Humanitarian Affairs” atau “Kekuatan Maritim dan Evolusi Tatanan Dunia: Pelajaran Historis, Tantangan Kontemporer, dan Perspektif Masa Depan tentang Urusan Kemanusiaan Maritim.”

Dalam paparannya, Laksma TNI Salim membahas bagaimana kekuatan maritim (maritime power) telah berkembang dari sekadar kemampuan menguasai dan mengendalikan laut menjadi instrumen strategis yang turut membentuk tatanan dunia, stabilitas kawasan, serta keamanan manusia. Perkembangan tersebut tidak terlepas dari dinamika sejarah, perdagangan, geografi, teknologi, dan perubahan karakter peperangan laut.

Beliau juga menyoroti pemikiran strategis Alfred Thayer Mahan dan Julian S. Corbett mengenai sea power, strategi maritim, penguasaan laut, serta keterkaitannya dengan kepentingan politik dan nasional suatu negara. Sejalan dengan perkembangan teknologi, kekuatan maritim kini menghadapi transformasi melalui pemanfaatan satelit, sistem tanpa awak, peperangan siber, peperangan elektronik, rudal presisi jarak jauh, serta kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).

Lebih lanjut, Kapusjianmar menjelaskan bahwa lingkungan strategis maritim kontemporer tidak hanya ditandai oleh peperangan konvensional, tetapi juga persaingan gray zone, seperti kompetisi penjaga pantai, operasi siber, perang informasi, lawfare, disinformasi, serta berbagai aktivitas maritim yang berlangsung di bawah ambang konflik bersenjata.

Dalam perspektif kemanusiaan, kekuatan maritim juga memiliki tanggung jawab untuk melindungi kehidupan dan menciptakan keamanan di laut, antara lain melalui search and rescue, bantuan kemanusiaan, evakuasi, perlindungan masyarakat sipil, respons bencana, serta perlindungan lingkungan dan pelayaran sipil. Penggunaan kekuatan tersebut harus senantiasa berlandaskan hukum, etika, legitimasi, dan prinsip kemanusiaan.

Pada bagian akhir paparannya, Laksma TNI Salim menekankan pentingnya transformasi pemikiran dari Maritime Power menuju Maritime Order, Human Security, dan Responsible Naval Leadership. Kekuatan maritim masa depan tidak hanya diukur dari kemampuan tempur, jumlah alutsista, maupun teknologi yang dimiliki, tetapi juga dari kemampuan membangun stabilitas, legitimasi, ketahanan, dan keamanan manusia di laut.

Melalui keikutsertaan dalam konferensi strategis internasional tersebut, Kapusjianmar Seskoal turut memperkuat pertukaran gagasan, wawasan strategis, serta jejaring akademik internasional di bidang kemaritiman, sekaligus mendorong pengembangan pemikiran strategis maritim yang adaptif terhadap dinamika lingkungan keamanan global.

Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperluas perspektif dan kontribusi pemikiran maritim Indonesia dalam forum akademik internasional, khususnya dalam membangun pemahaman bahwa laut bukan hanya ruang kompetisi kekuatan, tetapi juga ruang kerja sama, kemanusiaan, stabilitas, dan masa depan bersama.

pusjianmar.id

Scroll to Top