
Konsep “Maritime Dream” China yang diperkenalkan oleh Presiden Xi Jinping pada tahun 2012 merepresentasikan ambisi komprehensif negara tersebut dalam membangun kekuatan maritim kelas dunia. Visi ini mencerminkan integrasi antara tujuan keamanan nasional, kebangkitan budaya maritim, serta pertumbuhan ekonomi kelautan yang terstruktur dan sistematis. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan sumber-sumber akademik serta kebijakan resmi, artikel ini bertujuan memberikan pemahaman mendalam mengenai dinamika ambisi maritim Tiongkok dan dampaknya terhadap kawasan Indo-Pasifik dan dunia.
1. Pendahuluan
Dalam beberapa dekade terakhir, Tiongkok telah menunjukkan transformasi luar biasa sebagai kekuatan global, baik secara ekonomi maupun militer. Seiring dengan ambisi kebangkitannya, aspek maritim menjadi pusat perhatian dalam strategi nasional Tiongkok. Visi “Maritime Dream” yang dipopulerkan oleh Presiden Xi Jinping pada 2012 bukan sekadar narasi patriotik, tetapi bagian integral dari kebijakan luar negeri dan pertahanan nasional Tiongkok. Visi ini juga menjadi instrumen diplomasi strategis untuk memperkuat posisi Tiongkok sebagai kekuatan maritim global.
Maritime Dream merupakan bagian dari visi besar “China Dream” yang mengusung kebangkitan peradaban Tiongkok dalam berbagai aspek kehidupan nasional. Dalam konteks maritim, ini mencakup sebuah kondisi dan tujuan menjadikan China yang memiliki elemen keamanan laut yang kuat, meningkatnya pengaruh diplomatik melalui kerja sama kelautan, serta pembangunan ekonomi kelautan yang berkelanjutan.
2. Konseptualisasi Maritime Dream
Impian Maritim China “Maritime Dream” pertama kali diungkapkan Xi Jinping saat berkunjung ke Akademi Angkatan Laut Dalian pada 2012. Dalam pidatonya, Xi menyampaikan bahwa China harus menjadi kekuatan maritim besar yang mampu melindungi hak dan kepentingan maritimnya serta mengembangkan ekonomi berbasis laut1. Visi ini muncul sebagai respons terhadap dinamika geopolitik regional dan global yang menuntut China untuk memainkan peran lebih aktif dalam urusan maritim. Secara ideologis, maritime dream adalah bagian dari narasi “Chinese Dream” yang mengedepankan kebangkitan nasional dalam semangat modernisasi, inklusivitas, dan kebanggaan budaya. Impian ini bertujuan membangun kekuatan laut sekelas dunia, menjaga kedaulatan dan keamanan di perairan, juga menjadikan laut sebagai sumber utama pertumbuhan ekonomi dan pengaruh diplomatik.
3. Makna dan elemen kunci maritime dream
Maritime dream mencakup berbagai aspek penting yang saling terkait.
Pertama, dari sisi keamanan maritim atau maritime security, Tiongkok ingin memastikan jalur pelayaran penting seperti Selat Malaka dan Laut China Selatan tetap aman dan berada dalam pengaruhnya. Hal ini terlihat dari pembangunan fasilitas militer dan patroli rutin di wilayah-wilayah tersebut2.
Kedua, aspek modernisasi angkatan laut menjadi fokus utama, dengan pengembangan kapal induk, kapal perusak, hingga sistem pertahanan canggih yang menunjukkan niat Tiongkok untuk menyaingi kekuatan laut besar lainnya3.
Ketiga, di bidang ekonomi kelautan, Tiongkok mendorong sektor seperti energi laut, pelabuhan modern, dan industri perikanan untuk memperkuat ketahanan ekonominya4.
Keempat, melalui diplomasi maritim, Tiongkok aktif dalam forum kelautan internasional dan kerja sama hukum laut, sambil mempromosikan citra sebagai negara yang cinta damai dan mendukung kerja sama internasional5.
Terakhir, budaya maritim juga mendapat sorotan, dengan pengangkatan kembali tokoh pelaut legendaris seperti Zheng He untuk membentuk kembali identitas maritim nasional, termasuk melalui pendidikan dan media6.
4. Strategi Belt and Road Initiative (BRI)

Salah satu strategi kunci dalam menghidupkan Maritime Dream adalah BRI, terutama Jalur Sutra Maritim Abad ke-21 yang diluncurkan tahun 2013. Lewat inisiatif ini, Tiongkok membangun koneksi global melalui pelabuhan, jalur perdagangan, dan kerja sama ekonomi7.
Melalui Jalur Sutra Maritim, Tiongkok membangun pelabuhan strategis di negara-negara mitra seperti Pakistan (Gwadar), Sri Lanka (Hambantota), dan Yunani (Piraeus). Proyek-proyek ini tidak hanya berdampak pada perdagangan, tetapi juga memberikan pengaruh strategis Tiongkok di wilayah tersebut8.
Selain itu, BRI mendorong ekspor industri maritim dan memastikan pasokan energi serta logistik dalam negeri berjalan lancar. Dengan demikian, BRI bukan hanya proyek infrastruktur, tapi juga alat untuk memperkuat posisi global Tiongkok.
5. Catatan Kritis dan Tantangan
Keberhasilan Tiongkok dalam membangun jaringan maritim global memang mengesankan. Infrastruktur pelabuhan yang didukung pinjaman lunak atau kerja sama investasi memberi Tiongkok akses langsung ke jalur pelayaran internasional. Bahkan kehadiran militer di beberapa lokasi seperti Djibouti memperkuat dimensi strategisnya9.
Namun, tidak sedikit tantangan yang muncul. Sejumlah negara penerima proyek BRI mulai mempertanyakan transparansi proyek dan keberlanjutan utangnya. Ketegangan di Laut Tiongkok Selatan serta reaksi dari negara-negara seperti Amerika Serikat dan India juga menjadi hambatan dalam implementasi mimpi ini10.
Meskipun demikian, kombinasi kekuatan ekonomi, militer, diplomasi, dan budaya dalam satu visi besar menjadikan Maritime Dream sebagai strategi nasional yang menyeluruh dan ambisius.
6. Penutup
Maritime Dream mencerminkan ambisi jangka panjang Tiongkok untuk menjadi kekuatan maritim kelas dunia. Dengan menyeimbangkan aspek keamanan, militer, ekonomi, diplomasi, dan budaya, visi ini menjelma menjadi kebijakan strategis yang membentuk arah kebangkitan nasional. Melalui BRI, terutama Jalur Sutra Maritim, Tiongkok tidak hanya memperkuat perekonomiannya tetapi juga membangun pengaruh geopolitik secara luas. Meski menghadapi tantangan global, Maritime Dream tetap menjadi peta jalan utama bagi strategi maritim Tiongkok di abad ke-21.
- Xi Jinping (2012). “Speech at Naval Academy of Dalian”. Xinhua News. https://www.xinhuanet.com. Diakses 5 April 2025. ↩︎
- Ministry of National Defense PRC. “China’s Military Strategy White Paper 2015”. http://eng.mod.gov.cn. Diakses 6 April 2025. ↩︎
- Erickson, A. S. & Goldstein, L. J. (2017). “Chinese Naval Modernization: Implications for the United States Navy”. Naval War College Review. ↩︎
- Zhang, H. (2019). “Blue Economy in China’s Maritime Development”. China Ocean University Journal. ↩︎
- Liu, F. (2020). “China’s Maritime Diplomacy: Building Soft Power at Sea”. Journal of International Affairs. ↩︎
- Brady, A. M. (2015). “China’s Maritime Silk Road Initiative: Human and Cultural Dimensions”. East Asia Forum. ↩︎
- National Development and Reform Commission (2015). “Vision and Actions on Jointly Building Silk Road Economic Belt and 21st Century Maritime Silk Road”. http://en.ndrc.gov.cn. Diakses 7 April 2025. ↩︎
- Wong, A. (2021). “Port Politics: China’s Investment and Influence in Global Maritime Trade”. International Affairs. ↩︎
- Blanchard, J-M. F. (2018). “China’s Maritime Silk Road Initiative and Southeast Asia”. Contemporary Southeast Asia. ↩︎
- Smith, S. (2022). “Strategic Rivalry in the Indo-Pacific: The Impact of China’s Maritime Dream”. The Pacific Review. ↩︎




