Yogyakarta – Kepala Pusat Pengkajian Maritim (Kapusjianmar) Seskoal, Laksamana Pertama TNI Salim, S.E., M.Phil., M.Tr.Opsla menghadiri undangan sebagai narasumber pada acara Expert Session 2025 yang mengusung tema “Diplomasi Maritim pada Era Prabowo: Peluang dan Tantangan”. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Laboratorium Diplomasi, Jurusan Hubungan Internasional, Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta (UPNVY) pada Sabtu, 30 Agustus 2025, bertempat di Ruang Seminar FISIP UPNVY.
Dalam forum ilmiah tersebut, Laksma TNI Salim menyampaikan pandangannya mengenai arah dan dinamika diplomasi maritim Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto. Beliau menekankan pentingnya peran diplomasi maritim tidak hanya dalam menjaga kedaulatan dan keamanan laut, tetapi juga sebagai instrumen strategis untuk memperkuat posisi Indonesia di kawasan Indo-Pasifik.
Lanjut jebolan AAL 1995, Diplomasi maritim Indonesia cukup kompleks di tengah adu kekuatan dan pengaruh dari AS dan China, bangsa kita saat ini menghadapi gelombang dan badai di tengah Samudra. Dengan mengusung Asta Cita serta keteladanan yang digambarkan dalam diplomasi hiu kencana dalam buku KSAL Laksamana TNI Dr. Muhammad Ali, “Indonesia harus menjadi penentu di kawasan sekaligus pusat peradaban maritim,”. jelasnya. TNI AL yang memiliki peran diplomasi sudah membawa harum nama bangsa Indonesia di kancah pergaulan internasional, seperti Keberhasilan Multilateral Naval Exercise Komodo maupun International Maritime Security Symposium yang digelar di Bali pada awal tahun 2025.
Turut hadir sebagai narasumber adalah Prof. Anak Agung Banyu Perwita, pakar hubungan internasional sekaligus akademisi senior yang memberikan analisis mendalam mengenai peluang dan tantangan diplomasi Indonesia dalam menghadapi dinamika geopolitik global. Diskusi berjalan interaktif dengan dipandu oleh Dosen Hubungan Internasional UPNVY, Ludio Madus, selaku moderator.
Acara ini juga dihadiri para pakar, praktisi, serta akademisi di bidang hubungan internasional yang aktif berdiskusi mengenai isu-isu strategis. Kehadiran para narasumber dan peserta diharapkan dapat memperkaya perspektif sekaligus memperkuat peran akademisi dalam mendukung kebijakan luar negeri Indonesia, khususnya di bidang diplomasi maritim.
Melalui forum ini, diharapkan lahir gagasan konstruktif yang dapat memperkaya wacana kebijakan maritim Indonesia, sekaligus memperkuat kerja sama antara dunia akademik dan praktisi dalam merespons perkembangan geopolitik dan geostrategis global.







