Kapusjianmar Seskoal Tekankan Keterkaitan Selat Hormuz dan Selat Malaka sebagai Poros Stabilitas Ekonomi Global dalam Seminar Internasional

Jakarta, 2 Agustus 2026 – Kepala Pusat Pengkajian Maritim (Kapusjianmar) Seskoal, Laksamana Pertama TNI Salim, S.E., M.Phil., M.Tr.Opsla, menjadi narasumber pada seminar daring internasional bertajuk “Hormuz Strait and Global Economy Crisis” yang diselenggarakan oleh International Politics Forum (IPF) melalui platform Zoom, Minggu (2/8). Forum yang berlangsung selama dua jam tersebut mempertemukan akademisi, praktisi, pejabat pemerintah, organisasi kepemudaan, lembaga swadaya masyarakat, serta berbagai pemangku kepentingan dari kawasan Asia Tenggara untuk membahas dinamika keamanan maritim dan implikasinya terhadap perekonomian global.

Selain Kapusjianmar Seskoal, seminar turut menghadirkan Executive Director Global Insight Forum, Teuku Rezasyah, Ph.D., sebagai pembicara. Diskusi berfokus pada arti strategis Selat Hormuz sebagai salah satu maritime choke point terpenting di dunia, potensi eskalasi geopolitik di kawasan Timur Tengah, serta dampaknya terhadap keamanan energi, perdagangan internasional, rantai pasok global, inflasi, dan stabilitas ekonomi dunia.

Dalam pemaparannya yang berjudul Strategic Maritime Chokepoints: The Strait of Hormuz, Global Economic Resilience and Indonesia’s Maritime Strategy, Laksma TNI Salim menegaskan bahwa dinamika keamanan di Selat Hormuz tidak dapat dipisahkan dari jalur pelayaran strategis lainnya, khususnya Selat Malaka. Menurutnya, kedua kawasan tersebut membentuk mata rantai utama arus perdagangan dan distribusi energi global yang menghubungkan Timur Tengah dengan kawasan Asia Timur dan Indo-Pasifik. Gangguan terhadap salah satu jalur tersebut akan memberikan efek berantai (cascading effect) terhadap sistem perdagangan internasional, ketahanan energi, dan stabilitas ekonomi dunia.

Kapusjianmar menjelaskan bahwa Selat Malaka merupakan salah satu jalur pelayaran tersibuk di dunia yang setiap hari dilalui kapal-kapal pengangkut energi, komoditas, dan barang manufaktur. Posisi geografis tersebut menjadikan Selat Malaka memiliki nilai strategis sekaligus menghadapi berbagai tantangan keamanan, mulai dari pembajakan, penyelundupan lintas negara, ancaman terhadap keselamatan pelayaran, hingga meningkatnya rivalitas geopolitik di kawasan Indo-Pasifik. Oleh karena itu, penguatan tata kelola keamanan maritim menjadi kebutuhan bersama yang memerlukan kolaborasi antarnegara.

Dalam dialog tersebut, Kapusjianmar juga menekankan bahwa stabilitas kawasan Indo-Pasifik tidak hanya ditentukan oleh keseimbangan kekuatan militer, tetapi juga oleh kemampuan negara-negara kawasan dalam membangun ketahanan maritim (maritime resilience), meningkatkan kesadaran situasional maritim (maritime domain awareness), memperkuat keamanan jalur komunikasi laut (Sea Lines of Communication/SLOC), serta mengembangkan mekanisme kerja sama untuk mencegah konflik dan menjamin kebebasan navigasi sesuai ketentuan hukum laut internasional.

“Indonesia harus memastikan bahwa perairan nasional tetap menjadi pilar stabilitas kawasan, bukan menjadi titik api konflik (flashpoint). Membangun ketahanan maritim merupakan investasi strategis untuk melindungi aliran energi global, menjaga keberlangsungan perdagangan internasional, memperkuat pertumbuhan ekonomi, dan menjamin kemakmuran yang berkelanjutan bagi Indonesia maupun masyarakat internasional,” ujar Laksma TNI Salim.

Partisipasi Kapusjianmar Seskoal dalam forum ini mencerminkan komitmen Pusjianmar Seskoal sebagai pusat kajian strategis maritim dalam menghasilkan pemikiran yang adaptif terhadap perkembangan lingkungan strategis global. Keterlibatan tersebut juga menjadi bagian dari diplomasi pertahanan Indonesia melalui jalur akademik (defence diplomacy through strategic scholarship), sekaligus memperkuat kontribusi TNI Angkatan Laut dalam mendorong terwujudnya kawasan Indo-Pasifik yang aman, stabil, inklusif, dan berlandaskan pada hukum internasional.

pusjianmar.id

Scroll to Top